MIMBAR JUMAT (Jan. 2011 Minggu I)

Imam M, S.PdI Guru Profesional Pendidikan Agama Islam

Riya

Riya artinya memperlihatkan (menampakan) diri kepada orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya, baik melalui pembicaraan, tulisan ataupun sikap dan perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah. Riya itu dapat terjadi di dalam niat, yaitu ketika akan melakukan pekerjaan dan bisa juga terjadi setelah melakukan pekerjaan.

  1. Riya dalam niat
  2. Riya dalam niat yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginan karena orang lain, bukan karena Allah. Padahal niat itu sangat menentukan nilai suatu pekerjaan. Jika pekerjaan yang baik dilakukan dengan niat karena Allah, maka perbuatan itu mempunyai nilai di sisi Allah, dan jika perbuatan itu dilakukan karena ingin mendapat sanjungan, penghargaan dari orang lain, maka perbuatan itu tidak memperoleh pahala dari Allah. Hanya sanjungan itulah yang akan ia peroleh.

    Dari Amirul Mukminin Abi Hafash Umar bin Khatab Radhiyallahu Anhu, aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

    Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.”

  3. Riya dalam perbuatan
  4. Riya dalam perbuatan ini misalnya saat mengerjakan shalat dan bersedekah. Orang riya dalam mengerjakan shalat biasanya dia memperlihatkan kesungguhan, kerajinan , dan kekhusyu’annya jika dia berada di tengah-tengah orang atau jamaah sehingga orang lain melihat dia berdiri, ruku’ dan sebagainya. Dia shalat dengan tekun itu mengharapkan perhatian, sanjungan dan pujian dari orang lain agar dia dianggap sebagai orang yang taat dan tekun beribadah. Orang yang riya dalam shalatnya akan celaka di akhirat nanti, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, surat Al Maa’uun ayat 4 sampai dengan 7 dan An Nisa 142.
    4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
    5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
    6. Orang-orang yang berbuat riya [1603],
    7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna [1604].
    [1603]Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
    [1604]Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.
    Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka [364] berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya [365] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali [366].

    [364] Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
    [364] Riya ialah:  melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
    [364] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

    Riya dalam bersedekah seperti memberikan sesuatu kepada orang lain dengan harapan mendapat pujian dan sanjungan dari orang yang telah diberinya atau orang lainnya, agar dia dianggap sebagai orang yang dermawan, pemurah dan sebagainya. Dia akan mengungkapkan pemberiannya jika orang yang telah di bantu itu tidak menyanjung atau memujinya.

  5. Bahaya Riya
  6. Riya berbahaya terhadap diri sendiri dan orang lain. Terhadap diri sendiri bahaya riya itu akan dirasakan oleh dirinya berupa ketidakpuasan, rasa hampa, sakit hati dan penyesalan ketika orang lain tidak menghargainya, menyanjungnya, dan tidak berterimakasih kepadanya, padahal ia telah menolong orang lain, bersedekah, dan sebagainya. Akhirnya jiwanya akan sakit dan keluh kesah, yang tiada hentinya. Bahaya riya terhadap orang lain akan terlihat ketika orang yang pernah dibantunya diumpat, diolok-olok dan dicaci oleh orang yang telah membantu atau memberinya dengan riya itu. Dia mengumpat dan mencaci itu karena keinginannya untuk disanjung dan dipuji tidak terpenuhi sesuai dengan kehendaknya. Orang yang telah diumpat dan dicaci itu pasti akan tersinggung dan akhirnya terjadilah perselisihan antara keduanya.

    Perbuatan riya itu sangat merugikan, karena Allah tidak akan menerima dan memberi pahala atas perbuatannya, hal ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang artinya sebagai berikut :

    “Dari Abi Hurairah ra ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili di hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid kemudian dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya dan iapun mengakuinya lantas ditanya : dipergunakan untuk apa nikmat itu ? Ia menjawab “aku berperang karena-Mu (ya Allah) sehingga aku mati syahid. Allah menjawab : Dusta engkau sesungguhnya kamu berbuat (yang demikian itu) supaya kamu dikatakan sebagai pahlawan; kemudia malaikat diperintahkan untuk meyeret orang itu dan melemparkannya ke dalam neraka. Kedua, seorang yang yang dilapangkan rizkiya dan dikaruniai berbagai macam kekayaan, kemudian ia dihadapkan dan diperlihatkan kepada nikmat yang telah diterimanya itu, dan iapun mengakuinya, lantas ditanya : Dipergunakan untuk apa nikmat itu? Ia menjawab : Aku tidak pernah meninggalkan infak pada jalan yang engkau ridloi (ya Allah), melainkan aku berinfak (hanya) kepada-Mu. Lalu Allah menjawab : Dusta engkau, sesungguhnya kamu berbuat (yang demikian itu) supaya kamu dikatakan sebagai orang yang dermawan; kemudian (malaikat) diperintahkan untuk menyeret orang itu dan melemparkannya ke dalam neraka. Ketiga seorang yang belajar dan mengajar dan suka membaca Al Qur’an, maka dia dihadapkan dan diperlihatkan nikmat yang telah diterimanya itu dan iapun mengakuinya, antas ditanya : dipergunakan untuk apa nikmat itu? Ia menjawab : Aku menunntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an (hanya) untuk-Mu (ya Allah). Kemudian Allah menjawab : Dusta engkau, sesungguhnya engkau menuntut ilmu itu supaya dikatakan sebagai orang pandai dan engkau membaca Al Qur’an itu supaya dikatakan sebagai qari; lalu (malaikat) diperintahkan untuk menyeret orang itu dan melemparkannya ke dalam neraka.” (Hadits Riwayat Muslim).

    Begitulah bahaya riya, bahkan riya itu juga dikatakan sebagai syirik khafi, artinya syirik kecil atau syirik ringan, karena mengaitkan niat melakukan suatu perbuatan kepada sesuatu selain Allah.
    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s